Pagi ini di Plataran Bromo, langit tidak lagi sekadar biru. Ia sedang memamerkan senjatanya – ungu, jingga, dan emas tertumpah satu sama lain dalam sebuah kanvas raksasa.
Kami berdiri diam, hanya mendengar desir angin dan sesekali kicau burung. Menunggu… menunggu saat matahari pertama kali menyapa.
Ketika itu terjadi, semua orang di sekitar bersorak kecil. Bukan karena letusan dahsyat, tapi karena keanggunan yang perlahan-lahan merekah.
Ada yang bilang Bromo itu berbahaya karena letusannya. Tapi bagi saya, Bromo itu suci. Suci dalam kesederhanaannya. Suci dalam kemampuannya mengajarkan kita untuk menunggu, untuk sabar, untuk menghormati alam.
Plataran Bromo bukan sekadar tujuan. Ia adalah tempat kita belajar kembali terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari kita.